Berikut ini Islam memandang
kepemimpinan sebagai berikut.
- "Nabi mengatakan kepada mereka, `Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.` Mereka menjawab, `Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?` Nabi (mereka) berkata, ’Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.` Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”
llmu menjadi penting dalam
kepemimpinan. Sebuah syair Arab mengatakan, "Faqidu syai 1a yu`thi." Kalau kalian tidak memiliki apa - apa, maka sulit untuk memberi kepada
orang lain. Oleh karenanya, pemimpin juga dituntut untuk belajar secara
terus-menerus.
- "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa naf.su, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang - orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
- "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar - benarlah kamu mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu ’cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."
Berikut ini adalah prinsip dasar
yang penting sebagai landasan prinsip operasional kepemimpinan efektif dalam
Islam.
- Hikmah. Mengajak manusia dengan penuh hikmah.
- Diskusi. Jika ada perbedaan, maka diskusilah dengan baik.
- Pelajaran yang baik. Orang akan ikhlas menerima perintah jika memahami manfaat pekerjaannya dengan baik.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengelahui orang - orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl:
125)
- Qudwah. Memimpin lebih efektif dengan contoh.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mcnyebut Allah." (al-Ahzab: 21)
- Musyawarah. Jika ada perintah yang akan dikerjakan, maka sebaiknya dilakukan dengan musyawarah.
- Ikatan hati. Kelembutan hati dan saling mendoakan.
- Empati dan kelembutan hubungan.
"Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Maksudnya: urusan
peperangan dan ha1-hal duniawiah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi,
kemasyarakatan dan lain - lainnya). Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang - orang yang bertawakal kepada-Nya."
(Ali
Imran: 159)
8
Keadilan. Menjadi pemimpin yang tidak memihak.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran, yang sebaik - baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendegar
Lagi Maha Melihat." (an-Nisaa:
58)
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu
sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata)
atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui
segala apa yang kamu kerjakan." (an-Nisaa: 135)
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang - orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali - kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (al-Maa’idah: 8)
- Kebebasan berpikir, berkreativitas, dan berijtihad.
Rasul menerima pendapat lokasi
Perang Badar dan strategi Perang Parit (Khandak) dari Salman a1-Farisi.
- Dapat memanfaatkan potensi orang lain (Rasul mempereayakan misi ke Habasyah, Yaman, dan lain-lain kepada para sahabatnya).
Dari garis besarnya terlihat betapa universalnya pandangan Islam terhadap
konsep kepemimpinan. Hal ini dikarenakan ia mencakup dasar-dasar, persiapan,
dan pemilihan pemimpin. Juga mencakup ciri - ciri kejiwaan dan sosial yang
wajib dimiliki pemimpin, di samping tanggung jawab seni dan moral yang terletak
di atas punggungnya.
Berikut dijabarkan tujuh fakta
kepemimpinan dalam Islam.
- Pemimpin adalah sarana untuk menilai sukses.
- Hampir semua orang sukses karena bantuan orang lain (kerja sama).
- Setiap orang dapat menjadi pemimpin kapanpun.
- Esensi kepemimpinan adalah memotivasi orang yang dipimpin untuk bekerja secara maksimal.
- Tidak tergantung situasi.
- Mempelajari model kepemimpinan dalam pertempuran. Kepemimpinan dapat dibentuk, bukan bakat.
sumber : http://www.promagmulia.com/artikel/detail/4/kepemimpinan-menurut-islam.html
No comments:
Post a Comment